Momentum Hijrah?
Bismillah, Assalamu’alaikum
Warahmatullah Wabarakatuh.
Apa kabar wahai diri? Apa kamu
sedang baik-baik saja? Semoga selalu baik dalam dekapan Ar-Rahman Ar-Rahim. Saya
ingin sedikit bercerita tentang Hijrah, pas banget di Momentum awal tahun 1442
Hijriah
Belakangan, kita sering sekali
dengar kata hijrah yang lagi nge-tren di kalangan kita masa kini. Apalagi di
media sosial dan kalangan artis. Alhamdulillah dengan izin Allah Semua itu tidak
lepas dari perjuangan para pejuang dakwah kita, para ustadz dan ahlul ilmu
dalam menyebarkan dakwah islam serta kebaikan dari Allah memberikan Hidayah
sehingga banyak yang berhijrah.
Tapi,,, saya pernah tertohok
dengan pertanyaan. “Apakah tolak ukur seseorang hijrah? Apakah dari pakaian
gamisnya? dari hijabnya? Dari janggutnya kah? Dari celana La isbal? Masya Allah,
menurut saya itu memang salah satu pembuktian dari perubahan penampilan kita
untuk mengikuti syariat Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Itu juga
patut kita syukuri. Tapi Sebelumnya, Saya tidak ingin nge-judge ya, karena yang
perlu dipertanyakan terlebih dahulu adalah hati dan diri saya sendiri. “Apakah ini
hanya sekedar tren? Semoga saja tidak, semoga ghirah atau semangat islam itu
ada karena hidayah ilmu yang masuk ke dalam akal dan hati sehingga membuahkan
amal shalih dengan izin Allah. Betapa bahagianya kita ketika kaum muslim
berbondong-bondong hijrah untuk mengharap Ridho Allah dan saling bahu-membahu
dalam kebaikan. Semoga kita termasuk didalamnya. Aamiin
Hati saya bertanya-tanya hijrah saya kapan ya? apakah saya sudah termasuk orang yang berhijrah? Apakah saya kehilangan momentum tersebut? Karena rasanya akhlak saya belum menggambarkan muslim sejati, ilmu juga belum ada apa-apanya, amal? Allah yang tahu. pasti kita masih terus diuji keikhlasannya. juga apakah sudah sinkron antara ilmu dengan amal? Banyak yang berhijrah setelah Allah memberikah hidayah. Semoga kita bukan mengatakan berhijrah namun hanya topeng dan ternyata hanya jalan ditempat cuma keliatan berbeda versi covernya saja. Bukan gamisnya yang diperbanyak namun ilmu dan amalnya. ah diri ini tersindir sekali.
Dulu lepas SMA memang saya
sudah “menyingkirkan” celana-celana jeans, mencoba berjilbab jika keluar rumah
di pekarangan ataupun ketemu yang bukan mahram. sampai sekarang pun banyak hal yang belum istiqomah saya lakukan untuk perbaikan. tomboynya masih terasa maka ada satu celana jeans yang masih saya simpan jadi kenang-kenangan hingga sekarang, tidak ketat
memang hanya dulu karena terlihat keren banyak sakunya, bisa dipakai naik
gunung atau outdoor. Keinginan-keinginan terhadap apa yang rasanya dulu
dihadapan saya adalah hal yang bagus padahal tidak. Walhasil saya kadang merasa sedih, dengan
sikap-sikap lama yang rasanya belum hilang, saya ingin sekali bisa menjadi wanita yang anggun dan kalem.. hehe kalo itu kan udah karakter mungkin
ya, tapi rasanya tomboy itu pasti bisa hilang kok. Karena Allah melaknat wanita
yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita. Itu cukup
jawabannya bagi saya.
Akhirnya saya sadar, semua
kembali lagi pada niat apakah sudah ikhlas karena pengharapan akan Ridha, kasih sayang
Allah dan Jannah-Nya ditambah semangat untuk memperbaiki diri dan berusaha
istiqomah agar Allah Ridho terhadap diri dan hidup kita. totalitas kita dalam
mengharap Wajah Allah yang akan mengantarkan kita pada istiqomah dalam
berhijrah. Bukan karena mengikuti orang lain, bukan karena sedang nge-tren,
bukan pula karena hijrah untuk bersanding dengan sosok yang kita dambakan. Karena
bila itu alasannya maka hanyalah lelah dan kecewa yang kita dapatkan. mengharap
pada makhluk, mengharap pada dunia itu ibarat sayap nyamuk dan sarang laba-laba.
Sangat rapuh, lemah dan singkat.
untuk mempertahankan hidayah yang
sudah Allah kasih, maka kita sebagai muslim memang harus menuntut ilmu syar’i
sesuai Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah. Bukan mengikuti kebiasaan orang-orang
terdahulu, tradisi dan taklid buta yang “katanya dan katanya”.
Berhati-hatilah karena di sepanjang
sejarah Rasulullah, ada 2 peristiwa iblis turun langsung tanpa diwakili setan,
yaitu saat perang badar dan hijrah. Kita harus punya strategi.
Menurut saya yang paling pertama
adalah meluruskan niat. Ini paling pokok dalam segala hal di hidup kita agar semuanya
bernilai ibadah di sisi Allah, yang kedua adalah belajar tentang tauhid dan
akidah karena merupakan pondasi dasar dalam ilmu dan amal, yang ketiga memperbaiki
akhlak dan menambah tsaqofah ilmu islam lainnya yang masih sangat luas dan
banyak untuk kita pelajari. jangan lupa berdoa dan meniatkan agar ketika
menuntut ilmu kita bisa mengamalkan juga seizin Allah, masuk ke dalam akal dan
hati membuahkan amal shalih. Aamiin. Keempat yaitu menjaga pergaulan dalam
lingkungan orang-orang shalih untuk mempertahankan keimanan dan membantu kita
agar terus istiqomah serta ada kawan yang mengingatkan ketika kita lalai dan
khilaf. Kelima yaitu selalu berusaha semangat dalam kebaikan, syurga dan neraka
itu nyata bukan fatamorgana. Letakkan dunia ditangan, akhirat di hati. Hidup ini nggak lama kok, ada kampung akhirat yang abadi tempat kita kembali di Syurga, tempat Adam dan Hawa bermula.
Ada kawan saya bernasehat "kalau udah start jangan lari terus, adakalanya kita merasa lelah dan capek tapi
jangan sampai berhenti lebih baik jalan perlahan jika sudah lelah. ketika mungkin
kita sedang dalam kondisi futur, cobalah untuk tidak meninggalkan amal shalih
seluruhnya, tetaplah tunaikan yang wajib". Saya tambahin, jangan mencoba berbalik
arah, disitu agar kita bisa mencharge lagi semangat kita. Jangan sampai futur
atau lemah iman menggerus habis apa yang sudah kita capai dihadapan Allah.
Tulisan ini saya buat sebagai pengingat
diri saya pribadi. Agar ketika sedang kondisi futur atau lemah, tidak sampai
hilang semua hidayah yang sudah Allah beri karena hidayah itu harus selalu
dicari, istiqomah itu diusahakan.
Semoga Allah selalu memberi dan menjaga
hidayah untuk kita semua, menolong kita agar terus dapat istiqomah hingga akhir
hayat dalam keadaan husnul khatimah, Allah Ridha terhadap kita, dapat memandang
Wajah-Nya dan dapat berjumpa dengan Rasulullah di Akhirat kelak, di Jannahnya. آمين اللهم آمين
Seperti menanam tanaman yang kita nikmati
hasilnya, menanam bunga yang kemudian kita petik dan nikmati keindahan serta
aromanya. Akhirat tempat kita memanen apa yang kita tanam didunia. Kejar akhirat, dunia kan kau dapat tapi
jika dunia saja yang kau kejar maka akhirat tak kau dapati. Jadikan dunia
ditanganmu, akhirat dihatimu. Nggak kebalik.
Adakah yang lebih nikmat dari melihat wajah Allah kelak? Ketika Allah
berkata “Hai Jiwa yang Tenang, kembalilah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam syurgaku”. Semoga kita termasuk. آمين
Sorong, Ahad 23 Agustus 2020 M/5 Muharram
1442 H
Hamba dhaif dan hina yang merindu Surga |
A.D.A
Komentar
Posting Komentar